Sunday, 17 June 2012

Kota Jayapura


UNIK dan menarik. Dua kata itu tepat untuk menyebut kota yang terletak di paling ujung kawasan timur Indonesia. Selain letaknya berbatasan dengan Papua Niugini dan topografi yang berbukit-bukit, kota ini pun berganti nama sebanyak empat kali sebelum menjadi Jayapura.

Kota Jayapura adalah ibukota provinsi Papua, Indonesia. Kota ini merupakan ibukota provinsi yang terletak paling timur di Indonesia. Kota yang indah ini terletak di teluk Jayapura. Sebelumnya kota ini pernah bernama Soekarnopura dan Hollandia. Kota ini memiliki luas wilayah 9,4 km2 dan berpenduduk sebanyak 172.723 jiwa (2000).

SEBELUM perang dunia II, saat Belanda mendarat di bumi Papua, Jayapura diberi nama "Hollandia", yang berarti daerah berbukitbukit dan berteluk. Saat itu daerah ini ditunjuk sebagai ibu kota "Dutch New Guinea". Setelah definitif kembali ke Indonesia pada 1 Mei 1963, sejak saat itu nama "Hollandia" menjadi "Kota Baru" (1963-1969), lalu "Sukarnopura" (1969-1975), dan akhirnya "Jayapura".

Berada di Jayapura yang terletak di bibir Teluk Yos Sudarso dan Teluk Yotefa akan disuguhkan pemandangan indah panorama alam yang berbukit-bukit serta hamparan lautan Pasifik berair biru jernih. Kekayaan alam yang demikian indah itu menawarkan obyek wisata menarik.


 Dari kota ini pun bila ingin ke Papua Niugini (PNG) hanya diperlukan waktu tempuh lebih kurang 1,5 jam lewat darat. Tak salah bila pemerintah kota merancang Jayapura sebagai kota jasa, perdagangan, dan pariwisata. Di luar itu, sebutan kota pendidikan atau pun kota pelabuhan juga melekat bagi ibu kota Provinsi Papua ini.

Topografi daerahnya cukup bervariasi, mulai dari dataran hingga daerah berbukit di ketinggian 700 meter di atas permukaan air laut. Wilayah perbukitan terjal, rawa-rawa, dan hutan lindung dengan kemiringan 40 persen merupakan daerah yang tidak layak huni. Kondisi seperti itu membuat penyebaran penduduk kurang merata. Penduduk banyak terkonsentrasi di pusat kota, yaitu Kecamatan Jayapura Utara dan Jayapura Selatan.

Kota Jayapura memiliki beragam fungsi. Citra sebagai ibu kota provinsi yang menyandang segala kemudahan pemenuhan kebutuhan hidup dan sarana pendukung menyebabkan kota ini jadi kota tujuan. Beragam etnis, agama, budaya, maupun tingkat pendidikan mewarnai kehidupan kota. Mereka bekerja di berbagai bidang mulai pertanian hingga pemerintahan.

Sektor jasa paling banyak menyerap tenaga kerja sejumlah 29.180 orang atau 41,8 persen berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2002. Dikaitkan dengan kegiatan ekonomi Kota Jayapura, sektor jasa memberi kontribusi terbesar bagi pembentukan PDRB Jayapura, 25-30 persen dari total PDRB. Jasa pemerintahan umum merupakan penyumbang terbesar-90 persen lebih-bagi sektor jasa. Rupanya, sebagian besar penduduk Jayapura bekerja sebagai pegawai negeri. Ini artinya, pengeluaran terbesar Pemerintah Kota Jayapura adalah belanja pemerintahan, termasuk untuk gaji pegawai.

Keinginan pemerintah kota mengembangkan Jayapura sebagai kota perdagangan cukup beralasan. Lahan usaha ini menyerap 15.124 tenaga kerja atau 21,7 persen. Sebutan kota perdagangan ini dikaitkan dengan fungsinya sebagai tempat menampung hasil pertanian, hasil industri rumah tangga di sekitarnya, maupun sebagai pusat distribusi barang ke daerah lain dan bagi Jayapura sendiri.

Fasilitas yang tersedia berupa pasar tradisional, seperti Pasar Ampera, Pasar Hamadi, Pasar Entrop, dan Pasar Abepura. Ada pula pasar kecamatan, seperti Pasar Tanjungria dan Pasar Muaratami di perbatasan RI dan PNG. Di pusat kota dan di Abepura juga ada pasar modern dan pusat grosir. Perdagangan dimotivasi etnis dari Sulawesi Selatan, warga Tionghoa, serta etnis lainnya, termasuk penduduk asli yang mulai melakukan perdagangan.

Berkait erat dengan perdagangan adalah sektor perhubungan. Untuk mendistribusikan barang ke daerah-daerah lain di pedalaman serta lancarnya aktivitas perdagangan, diperlukan sarana dan prasarana yang memadai.

Angkutan laut, udara, dan darat mempunyai peran penting. Khusus angkutan darat, berbagai jenis kendaraan angkutan kota siap mengangkut penumpang maupun barang, mulai dari bus, taksi hingga mobil sewa. Belum lagi peran pelabuhan laut yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia Wilayah IV Cabang Jayapura. Kunjungan kapal bongkar-muat dan naik-turun penumpang terus meningkat. Bahkan tahun 2001 jumlah kapal niaga yang berlabuh naik 240,5 persen dari tahun sebelumnya menjadi 2.191 kapal.

Ramainya aktivitas perdagangan dan angkutan berpengaruh pada besarnya sumbangan kedua sektor itu bagi PDRB kota. Dalam lima tahun terakhir, dua sektor itu saling bersaing menempati posisi kedua setelah sektor jasa yang tak beranjak dari urutan teratas.

Kondisi jalan yang baik membuat Jayapura memiliki fungsi sebagai kota transit. Masyarakat yang ingin ke Wamena harus melalui Jayapura. Bukan hanya penduduk Papua yang menjadikan Jayapura sebagai kota transit, turis asing maupun lokal juga menggunakan kota ini sebagai kota persinggahan bila ingin menuju pedalaman. Penerbangan dari Jayapura ke pelosok pedalaman juga lebih mudah didapat, dibanding penerbangan dari kabupaten lain.

Meskipun Bandara Sentani terletak di Kabupaten Jayapura, lebih kurang 33 kilometer atau 30-45 menit dengan taksi bandara sampai ke pusat kota, pendatang, baik turis maupun yang datang untuk urusan dinas, akan singgah dan menginap di Kota Jayapura.

Pariwisata Jayapura memang belum sepenuhnya pulih dari kondisi terpuruk sejak krisis melanda negeri ini. Turis asing yang datang ke kota ini pun belum seperti yang diharapkan. Paling banter berharap pada turis asal PNG yang datang ke Jayapura. Selain berlibur dan mengunjungi tempat-tempat wisata, mereka juga datang berbelanja. Ada berbagai obyek wisata pantai yang ditawarkan seperti Pantai Base G, Pantai Hamadi, Pantai Hotekamp, dan Pantai Skow. Ada pula obyek wisata kultural semacam museum budaya dan obyek wisata peninggalan perang dunia II.

Kota Jayapura memang menjanjikan. Selain sebagai pusat pemerintahan, kota ini menjadi daya tarik masyarakat daerah sekitar yang mencari penghidupan. Mengalirnya masyarakat daerah sekitar ke Kota Jayapura berdampak pada meningkatnya pengangguran. Tahun 2001 pengangguran mencapai 12.242 pencari kerja, meningkat tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Jumlah terbesar berasal dari lulusan setingkat SMA sebanyak 8.717 dan sarjana sebanyak 2.415.

Masalah pengangguran menjadi persoalan tersendiri bagi kota yang juga menyandang sebutan kota pendidikan ini. Padahal, satu perguruan tinggi negeri, yaitu Universitas Cendrawasih dan 12 perguruan tinggi swasta dengan berbagai status merupakan wujud upaya kota ini meningkatkan sumber daya manusia berkualitas.
MG Retno Setyowati Litbang Kompas

Islam Agama Yang Unik


Islam adalah agama yang diturunkan Allah melalui Muhammad SAW, kepada seluruh umat manusia. Ajaran Islam menyangkut masalah keimanan (aqidah) dan aturan (syari’ah), juga fikrah (ide) dan thariqah (jalan untuk melaksanakan fikrah) disampaikan kepada Nabi melalui wahyu yang tertuang dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Berbagai hal yang termasuk masalah aqidah, baik yang terdapat pada ayat tentang alam semesta (sains, kisah, atau pun pada ayat yang khusus berbicara masalah keimanan secara langsung, harus diimani secara mutlak. Ini menentukan muslim tidaknya seseorang. Buah dari iman adalah ketundukannya pada syari’at dan tidak aman kecuali ia menerima syari’at. Maka, syari’at yang mengatur semua sendi kehidupan manusia, baik dalam kehidupan individu maupun komunal, harus dilaksanakan.
Inti ajaran Islam adalah tauhid. Secara normatif diyakini bahwa Islam adalah agama pembawa rahmat. Allah menurunkan agama demi kebaikan hidup makhlukNya. Dengan dilaksanakannya syari’at, otomatis akan terbentuk suatu masyarakat, dengan sebuah peradaban yaitu peradaban yang tauhid.
Karakteristik Peradaban Islam
Jelas sekali bahwa Islam bukanlah agama dengan segepok teori dan ilusi kosong tanpa kenyataan. Islam sebagai agama telah ada sejak 1400 tahun silam, dan sebagai mabda’ telah terwujud secara faktual sebagai realitas historis selama berabad-abad di berbagai wilayah. Karakteristik peradaban Islam yang khas di antaranya:
1.       Tauhid
Ini ciri utama, sekaligus pembeda dari peradaban manapun di dunia, termasuk peradaban sekuler yang ditegakkan atas dasar materialisme sekarang ini. Dengan bimbingan wahyu, didorong kekuatan ruhiyah yang muncul dari imannya kepada Allah, Rasulullah memulai kerja besarnya, menegakkan sebuah peradaban di kota Makkah yang jahiliyyah. Jelaslah bahwa awal motif tegaknya peradaban Islam bukanlah materialism ataupun rasionalisme, melainkan tauhid yang diwujudkan dalam kerangka penghambaan kepada Allah demi menggapai mardlatillah.
2.       Daya Pengaruh
Memang awal dakwah Islam berjalan lambat, Makkah jahiliyyah agaknya terlalu berat menerima ajakan Rasul. Tiga tahun pertama hanya 40 orang yang turut serta dalam barisan Rasulullah. Sepuluh tahun kemudian, saat hijrah ke Madinah jumlah kaum muslimin pun hanya sekitar 1400 orang. Tapi setelah hijrah, kaum muslimin berkembang menjadi sekitar 10 juta orang di akhir hayat nabi. Mereka hidup di suatu wilayah, yang semula kecil, hingga menguasai seluruh Jazirah Arab, yang luasnya empat kali lebih besar dari wilayah gabungan Perancis dan Jerman sekarang.
3.       Dalam Daulah Islamiyyah
Sebuah peradaban tidak akan terwujud kecuali dalam sebuah masyarakat. Dan masyarakat, demikian Sidi Ghazalba dalam buku Masjid mengatakan, juga tidak akan terwujud kecuali dalam sebuah Negara. Maka, sepakat semua pemikir muslim bahwa Madinah adalah Negara Islam yang pertama dan apa yang dilakukan oleh Rasulullah setelah hijrah dari Makkah ke Madinah adalah memimpin masyarakat Islam dan memerankan dirinya bukan hanya sebagai rasul namun juga sebagai kepala Negara Islam Madinah.
Islam tidak hanya mengatur hubungan antar manusia dengan tuhannya tapi juga hubungan antar manusia serta mengatur manusia itu sendiri agar dia menjadi pribadi yang shaleh.
Di bidang pemerintahan, sebagai kepala pemerintahan Rasulullah mengangkat beberapa sahabat untuk menjalankan beberapa fungsi yang diperlukan agar manajemen pengaturan masyarakat berjalan dengan baik. Rasul mengangkat Abu Bakar dan Umar bin Khattab sebagai wazir (pembantu). Juga mengangkat beberapa sahabat sebagai wali memimpin wilayah Islam, diantaranya Muadz bin Jabal sebagai wali sekaligus sebagai qadli di Yaman. Dalam beberapa peperangan Rasulullah juga mengangkat panglima tentara Islam. Rasul mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglima dalam perang Mut’ah perang pertama melawan adikuasa dunia.
Di bidang militer, terlihat Rasulullah memimpin langsung beberapa peperangan dan mengatur beberapa strategi sebagaimana dalam perang Uhud. Pada kesempatan lain, bila pendapat sahabat benar Beliau pun tak segan-segan mengikuti saran para sahabat tersebut.
Sebagai kepala Negara pun Rasulullah melaksanakan hubungan dengan Negara-negara lain dan menurut Muhammad Tahir Azhari, rasulullah mengirim sekitar 30 buah surat kepada kepala Negara lain. Tidak hanya surat, Rasulullah pun mengirimkan sahabat sebagai duta Negara seperti Hubail bin Amr.
4.       Masyarakat Plural
Tidak bias dipungkiri bahwa kondisi masyarakat pada masa Rasulullah apalagi masa sekarang berada pada kondisi sangat plural. Mereka (warga masyarakat yang bukan muslim) disebut ahlu dzimmah mendapatkan beberapa hak, diantaranya yaitu: hak perlindungan, nyawa dan badan, terhadap harta, kehormatan, hari tua dan kemiskinan, dan menjalankan agamanya masing-masing.
5.       Kemajuan Material
Islam bukanlah agama keruhanian belaka, namun tetap juga memperhatikan kemajemukan manajerial. Sebagai kepala Negara, Rasulullah menyadari betul arti pentingnya pengembangan SDM, yaitu manusia yang tangguh, yakni penanaman aqidah dan ketaatannya pada syari’at Islam. Meskipun demikian, tidak berarti Rasulullah mengabaikan penguasaan ilmu kehidupan, seperti misalnya perintah Rasul untuk menuntuk ilmu dalam hadistnya yang terkenal, yaitu “Menuntut ilmu wajib bagi tiap muslim, walaupun sempai ke negeri Cina”.
6.       Minimnya Maksiat
Dengan tiga pilar penopang, yakni taqwa individu, pengawasan masyarakat dan pelaksanaan oleh Negara. Hukum Islam berhasil ditegakkan dengan kokoh. Dengan taqwa seorang muslim dengan kedudukan apapun ia memiliki dorongan kuat untuk melaksanakan hokum Islam. Kontrol masyarakat dan pelaksanaan hukum oleh Negara merupakan cermin dari ketawaan individu tersebut, ketika ia sebagai anggota masyarakat atau pejabat Negara. Dengan cara ini, kebaikan akan berkembang dan kemaksiatan pun berhasil ditekan.  
7.       Ketahanan Tinggi
Bagi seorang muslim, melaksanakan aturan Islam adalah bagian tak terpisahkan dari taqwanya kepada Allah. Bila peradaban Islam adalah rangkaian jalin menjalin dari pelaksanaan hukum Islam dalam berbagai aspeknya, maka seorang muslim yang bertaqwa akan memandang penegakan peradaban Islam merupakan tugas utama agama. Maka ia akan berusaha menegakkan atau mempertahankan. Setelah runtuhnya Khilafah Utsmani 1924, peradaban Islam runtuh. Secara paksa diterapkan system selain Islam atas kaum muslimin. Tetapi upaya ini tidak berhasil. Kalaupun berhasil, pasti harus dilakukan susah payah disertai dengan kekuatan senjata (seperti yang terjadi di Turki juga di Uni Sovyet). Itupun ternyata tidak mampu memindahkan agama mereka serta menghilangkan akar sejarah kaum muslimin sepenuhnya. Terbukti, kendati umat Islam di Azerbaijian misalnya hidup di dalam system komunis dan selama itu mereka mengalami penindasan, ternyata mereka tetap muslim.

Wednesday, 13 June 2012

Mengapa Harus Berdakwah???


Islam adalah agama dakwah. Artinya, bahwa Islam bias tersebar ke seluruh penjuru dunia, dipeluk, dipahami dan diamalkan oleh manusia dari berbagai suku dan bangsa adalah karena dakwah, yang dilancarkan tanpa henti di sepanjang kurun sejarah Islam. Salah satu dari inti ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Dan menjadi salah satu cirri seorang mukmin adalah kepeduliannya terhadap dakwah. Bersama mukmin yang lain atau mukminat, ia bahu membahu melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Ia yakin tidak ada aktifitas yang lebih mulia dalam hidup ini kecuali mendedikasikan diri dalam dakwah Islam.
Misi Utama Rasulullah
Misi utama Muhammad sebagai rasulullah (utusan Allah) adalah berdakwah, mengajak semua manusia kepada jalan yang benar, member kabar gembira berupa pahala serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat (surga) bagi siapa saja yang bersedia mengikuti jalannya, juga member peringatan akan datangnya azab berupa kesengsaraan, kekacauan hidup di dunia dan akhirat (neraka) bagi yang mengingkarinya.
Fakta sejarah membuktikan, bagaimana Rasulullah berhasil menegakkan sebuah peradaban khas yang penuh rahmat di atas landasan tauhid di kawasan Jazirah Arab yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Berkenaan dengan daya pengaruh peradaban Islam ini, orientalis terkemuka L. Stoddard, memberikan pujian pada bukunya The New World of Islam. Katanya, “bangkitnya Islam barangkali suatu peristiwa yang paling menakjubkan dalam sejarah manusia. Dalam tempo kurang seabad, dari gurun tandus dan suku bangsa terbelakang, Islam telah tersebar hamper menggenangi separuh dunia. Menghancurkan kerajaan-kerajaan besar, memusnahkan beberapa agama besar yang telah dianut berbilang zaman dan abad”.
Wujud Kasih Sayang
Dalam pergaulan sehari-hari diperlukan saling mengingatkan. “Manusia adalah tempatnya keliru dan lupa”, kata Rasulullah. Maka wajar bila manusia acap bertingkah menyimpang dari tuntunan agama, baik karena khilaf ataupun karena dorongan hawa nafsu. Di sinilah peringatan dan nasehat dari sesame muslim sangat diperlukan. Al-Quran menyebut aktifitas taushiah bi al-haq dan taushiah bi al-sabr sebagai cirri orang yang beriman yang beruntung.


Jadi, dakwah sesungguhnya merupakan cermin dari kepedulian seorang muslim terhadap muslim lainnya, bahkan sesame manusia. Dengan rasa kasih sayang,  seorang muslim sesuai teladan yang diberikan Rasulullah mengingatkan orang lain agar tidak menempuh jalan hidup yang salah. Yakni mempercayai (mengimani) yang tidak layak dipercayai serta bertindak dan berfikir tidak sesuai tuntunan agama Islam. Inilah hakekat dakwah.
Dengan dakwah, umat Islam dihindarkan dari sikap individualistis dan tidak peduli akan nasib sesame. Pengalaman menunjukkan, bahwa sikap individualistis telah menimbulkan berbagai problema masyarakat yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Tuesday, 12 June 2012

Pengerusakan Akhlaq Oleh Musuh-musuh Islam


Memang telah menjadi sunatullah, bahwa kaum Muslimin senantiasa dibayangi oleh segala maneuver musuh-musushnya untuk menjatuhkan kaum Muslimin dengan ajaran-ajarannya. Ini telah terjadi semenjak cahaya Islam terpancar dari Makkah Al-Mukarramah dan akan terus terjadi hingga Allah menutup panggung kehidupan yang fana ini. Berbagai langkah senantiasa diwujudkan tanpa kenal lelah, didukung potensi dana, iptek dan kekuatan politis serta militer yang ada, mereka senantiasa membuat maker terhadap Ummat Islam.
Di antara aspek yang paling terasa pengaruhnya adalah semakin jauh ummat Islam daari sikap akhlaq Islami. Meski rendahnya akhlaq umat kini, merupakan hasil suatu proses yang cukup panjang, namun hingga sekarang sedikit sekali kaum Muslimin yang menyadari hal tersebut.
Sarana perusakan yang paling berbahaya yang digunakan untuk merusak akhlaq dan tata kehidupan yang Islami adalah dengan menyuguhkan pemikiran yang salah bahkan bersifat destruktif yang mampu menjungkir-balikkan tatanan social yang Islami serta menciptakan lingkungan yang buruk di kalangan kaum Muslimin di seluruh dunia. Berbagai cara yang digunakan antara lain:
1.       Mengalihkan Ummat kepada Gaya Hidup Permisivisme-Materialisme (keserba-bolehan mencari dan mencintai harta/dunia).
Dipasungnya kaum Muslimin dalam perbuatan suap-menyuap, manipulasi harta ummat, melakukan penimbunan secara haram, terbiasa berbuat curang dengan cara memperlicin usahanya melalui materi. Semua perbuatan tersebut seolah kebolehan tanpa dosa bias dilakukan bahkan senantiasa berlomba mencari kesempatan untuk melakukannya. Setiap perbuatan tidak lagi menggunakan jalan yang disyariatkan oleh Islam melainkan hanya melihat ‘Apa yang bias dan apa yang tidak bisa’, bukan ‘Apa yang boleh atau tidak’.
2.       Pergaulan Bebas.
Satu aspek di masyarakat yang telah menggejala umum adalah adanya sikap bebas bergaul sesuai keinginan, asal tidak mengganggu orang lain. Seorang laki-laki boleh berbuat apa saja terhadap wanita yang ‘Suka sama suka’. Seorang remaja boleh berbuat semaunya sebagaimana yang ia dapatkan. Dari kondisi inilah muncul aktifitas free-sex, hancurnya nilai kasih saying yang hakiki, merajalelanya prostitusi, meningkatnya angka aborsi, putusnya nilai-nilai kekeluargaan dan berakibat hancurnya tatanan social masyarakat.
Orang-orang yang tenggelam dalam pergaulan bebas tanpa batas sibuk dan mabuk oleh pesona-pesona yang nisbi tertipu oleh kesenangan yang semu, secara tidak sadar mereka tidak memperdulikan bahaya besar yang mengancam peradabannya.
3.        Memperalat Kaum Wanita.
Disebar-luaskannya paham kesamaan derajat total pria dan wanita. Dibebaskannya aktivitas wanita sebagaimana pria. Maka batas pergaulan antara keduanya menjadi bias, karena hampir pada seluruh aktifitas pria, wanita senantiasa menyertai dan menyempurnakannya. Dengan daya tarik artifisial yang dipoles dengan kosmetika, wanita bergerak dihadapan pria sehingga menimbulkan ketertarikan syahwat. Sadar maupun tidak, langsung maupun tidak, hal ini berujung pada eksploitasi harkat wanita dalam masyarakat. Kewajiban wanita sebagai ibu dan pemimpin masalah rumah tangga menjadi sirna, berganti menjadi perlombaan meraih prestise karir. Sebagian wanita bahkan telah rela menjadi jasad tanpa ruh, hanya sebagai benda pemuas naluri pria. Lambat namun pasti, kemuliaan derajat wanita, luntur bersama lunturnya rasa malu pada dirinya.
a.       Lapangan Pendidikan.
Semboyan yang kita kenal dibidang ini adalah “Peningkatan Pendidikan Wanita”, diarahkan menurut setting kehidupan liberalism yang serba bebas. Metode pendidikan wanita yang tidak mendukung kemuliaan derajat dan kewajiban seorang muslimah. Percampur-bauran dalam pendidikan, dengan terbukannya aurat dan dijauhkannya Muslimah dari ilmu-ilmu wajib mereka sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, menjadikan wanita “berpendidikan” bukanlah wanita “bersyakshiyah Islamiyah” tetapi berkepribadian kapitalisme semu.  
b.       Lapangan Seni Budaya.
Tipu daya yang menonjol adalah wanita tak ubahnya sebagai alat yang dapat diwarnai, diparfumi, dibungkusi dengan media-media kosmetika dan mode. Film, majalah, radio dan televise tak lepas dari wanita. Disinilah awal keruntuhan harkatnya, ia hanya bernilai materi tanpa nilai ruhani.
c.       Lapangan Industri dan Perdagangan.
Kecermatan dan ketekunan wanita serta kelemahlembutannya dihargai murah untuk kerja mereka di sebuah pabrik atau untuk meluluskan sebuah rencana. Iklan sebagai ujung tombak pemasaran selalu memanfaatkan wanita dengan berbagai keelokan non-alaminya, dengan desah suara dan kerling matanya. Maka angka penjualan berbagai produk menjadi meningkat meski tak ada hubungannya dengan ‘kewanitaan’. Sekali lagi wanita hanya sebatas tubuh.
4.       Memasyarakatkan Minuman Keras.
Media minuman keras sebagai penghilang akal, dilarang keras dalam kehidupan masyarakat Islam. Namun justru kenikmatan nisbi yang ada didalamnya, telah dijadikan alat ampuh untuk menarik generasi muda Islam menjauhkan nilai-nilai Islami. Ketergantungan terhadap minuman haram membawa kerusakan jasad dan jiwa generasi muda. Dari sinilah, kehancuran generasi berawal.
5.       Menciptakan Permainan yang Melalaikan Ummat.
Di antara akhlaq kamum muslimin yang luhur adalah menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat, menjauhi segala sesuatu yang dapat membuang-buang waktu tanpa faedah. Jenis-jenis permainan dan hiburan yang menina-bobokan ummat telah dijadikan bagian hidup yang penting bagi kaum muslimin.
6.       Menuduh dan Mengicuh Muslimah Berjilbab.
Untuk melicinkan tipu dayanya, sebagian musuh Islam menempuh cara antara lain:
a.       Membuat opini negative bahwa jilbab diidentikkan dengan kebodohan, keterbelakangan, kolot, ketinggalan zaman, menghambat kemajuan dan produktifitas, hingga tuduhan-tuduhan ekstrim yang sungguh tak layak ditujukan kepada mereka.
b.      Memfitnah muslimah berjilbab dengan cara menyusupkan beberapa wanita karir, fasik atau bahkan pelacur yang menggoda kaum pria dengan mengenakan jilbab sehingga muncul tuduhan dan fitnah buruk yang ditujukan kepada wanita muslimah yang mulia.

Sekilas Gaya Hidup Remaja


Peradaban materialis abad modern dengan manfaat sebagai standar hidup terbukti telah dan akan terus membawa berbagai prahara kemanusiaan. Sistem kehidupan sekularis telah mencerabut nilai-nilai mulia dan agung dalam situs kehidupan masyarakat, sekaligus menenggelamkan derajat hidup masyarakat kepada pola-pola hidup rendahan, dan terus menggiring manusia ke jurang kemerosotan dan kemelaratan yang paling dalam. Kendati kemajuan materi telah tercapai  walau hanya untuk segelintir orang saja, namun nilai-nilai akhlak, rasa kemanusiaan, perasaan rindu akan nilai-nilai rohani, semuanya telah tereliminasi dalam arena kehidupan seiring dengan menebalnya pelanggaran terhadap syariat Islam.
Kebebasan pergaulan di kalangan remaja, seks bebas, di peradaban sekarang sudah menggila. Semuanya jelas terekam dalam mode busana, iklan yang lebih pada eksploitasi wanita, hiburan, cara berfikir yang lebih cenderung didominasi pikiran kotor dan moral yang bejat.
Pola hidup waqi’iyyin (perilaku yang bertolak pada kenyataan yang tengah terjadi), sikap hedonis (menjadikan materi sebagai nilai paling tinggi dan menjadi tujuan hidup), dan gaya hidup permisiv (gaya hidup serba boleh) melanda sebagian besar remaja kita. Dalam hal ini, barat seolah menjadi kiblat “kemajuan”. Musik, film, mode dan semua gaya barat makin deras menggejala di kehidupan remaja. Remaja yang tidak memilki kepribadian yang kuat mudah sekali tercemar, sekaligus memunculkan pribadi yang terpecah. Ya sekarang kayak gaya hidup Si Boy: rajin shalat namun demen maksiat.
Akibat kronis dari itu semua sudah sangat terasa. Manusia yang telah terdehumanisasikan, jiwanya semakin mengering. Pelecehan seksual, pornografi, selingkuh, prostitusi, pemerkosaan, dan aborsi adalah hal biasa. 

Akar Masalah
Kalau kita mengurai benang merah dari semua kebejatan moral itu, sesungguhnya bermuara pada sudut pandang hidup yang menjadikan materi sebagai tujuan hidup dan manfaat sebagai tolak ukur menilai baik buruk dalam kehidupan. Dan sesungguhnya sudut pandang hidup tersebut terpencar dari aqidah Sekularisme, yakni memisahkan antara kehidupan beragama dengan kehidupan umum. Yang paling menonjol dan terasa dalam tatanan pergaulan remaja kita adalah kebebasan bertingkah laku.
Gejala pornografi akan senantiasa mewarnai masyarakat dengan pola hidup yang bebas. Media massa, cetak maupun audiovisual berperan banyak sehingga pornografi berserakan dimana-mana. Sebuah Koran menyebutkan bahwa 75% orang inggris adalah anak zina.

Alternatif Solusi
Mengingat akar masalah terletak pada landasan hidup kehidupan modern ini dan yang paling menonjol adalah perilaku kebebasan perilaku yang ada pada remaja, maka tidak ada cara lain untuk menanggulanginya kecuali dengan menumbuk hancur gaya hidup demikian. Kemudian menggantinya dengan gaya hidup seorang muslim yang senantiasa dibimbing dan diatur oleh Syari’at Islam.
Permasalahannya adalah siapa atau bagaimana cara mewujudkan semua itu agar jelas terealisir di kehidupan bermasyarakat. Semua konsep tidak akan terlaksana secara sempurna kalau tidak ada political will yang sungguh-sungguh dari pihak penguasa.

MATERIAL PENYUSUN BETON BERTULANG

Penyusun Beton Beton merupakan campuran antara bahan agregat halus dan kasar dengan pasta semen (kadang-kadang juga ditambahkan admixtur...